Halaman

Home

Kamis, 05 Oktober 2023

5 Posisi Kontrol

Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) mengemukakan bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang-ruang kelas mereka selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat, memerdekakan, dan memandirikan murid, bagaimana dan mengapa? Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer.


Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Guru-guru yang menerapkan posisi penghukum akan berkata:

“Patuhi aturan saya, atau awas!”

“Kamu selalu saja salah!”

“Selalu, pasti selalu yang terakhir selesai”

Guru seperti ini senantiasa percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu cara dia.


Penghukum (Nada suara tinggi, bahasa tubuh: mata melotot, dan jari menunjuk-nunjuk menghardik):

“Terlambat lagi, pasti terlambat lagi, selalu datang terlambat, kapan bisa datang tepat waktu?”

Tanyakan kepada diri Anda:

Bagaimana perasaan murid bila guru berbicara seperti itu pada saat muridnya datang terlambat? 

Hasil:Kemungkinan murid marah dan mendendam atau bersifat agresif. Bisa jadi sesudah kembali duduk, murid tersebut akan mencoret-coret bukunya atau meja tulisnya. Lebih buruk lagi, sepulang sekolah, murid melihat motor atau mobil bapak/ibu guru dan akan menggores kendaraan tersebut dengan paku.

Pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti:

“Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu”

“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?”

“Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat begini?”

Di posisi ini murid akan memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan telah mengecewakan orang-orang disayanginya.


Pembuat Merasa Bersalah (Nada suara memelas/halus/sedih, bahasa tubuh: merapat pada anak, lesu):

“Adi, kamu ini bagaimana ya? Kamu sudah berjanji dengan ibu tidak akan terlambat lagi. Kamu kenapa ya senang sekali mengecewakan Ibu. Ibu benar-benar kecewa sekali.”

Bagaimana perasaan murid bila ditegur seperti cara ini?

Hasil:Murid akan merasa bersalah. Bersalah telah mengecewakan ibu atau bapak gurunya. Murid akan merasa menjadi orang yang gagal dan tidak sanggup membahagiakan orang lain. Kadangkala sikap seperti ini lebih berbahaya dari sikap penghukum, karena emosi akan tertanam rapat di dalam, murid menahan perasaan. Tidak seperti murid dalam dengan guru penghukum, di mana murid bisa menumpahkan amarahnya walaupun dengan cara negatif. Murid tertekan seperti inilah yang tiba-tiba bisa meletus amarahnya, dan bisa menyakiti diri sendiri atau orang lain. 

Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata:

“Ayo bantulah, demi bapak ya?”

“Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?”

“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”.

Hal negatif dari posisi teman adalah bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha. Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru tersebut.


Teman (nada suara: ramah, akrab, dan bercanda, bahasa tubuh: merapat pada murid, mata dan senyum jenaka)

“Adi, ayolah, bagaimana sih kamu. Kemarin kamu sudah janji ke bapak bukan, kenapa terlambat lagi? (sambil tertawa ringan). Ya, sudah tidak apa-apa, duduk dulu sana. Nanti Pak Guru bantu. Kamu ini.” (sambil senyum-senyum).

Bagaimana perasaan murid dengan sikap guru seperti ini?

Hasil: Murid akan merasa senang dan akrab dengan guru. Ini termasuk dampak yang positif, hanya saja di sisi negatif murid menjadi tergantung pada guru tersebut. Bila ada masalah, dia merasa bisa mengandalkan guru tersebut untuk membantunya. Akibat lain dari posisi teman, Adi hanya akan berbuat sesuatu bila yang menyuruh adalah guru tersebut, dan belum tentu berlaku yang sama dengan guru atau orang lain.

Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau. Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau:

“Peraturannya apa?”

“Apa yang telah kamu lakukan?”

“Sanksi atau konsekuensinya apa?”

Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek. Posisi pemantau sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol murid.


Pemantau (nada suara datar, bahasa tubuh yang formal):

Guru: “Adi, tahukah kamu jam berapa kita memulai?”

Adi:    “Tahu Pak!”

Guru: “Kamu terlambat 15 menit, apakah kamu sudah mengerti konsekuensi yang harus dilakukan bila terlambat?”

Adi:    “Paham Pak, saya harus tinggal kelas pada jam istirahat nanti dan mengerjakan tugas ketertinggalan saya.”

Guru: “Ya, benar, nanti pada saat jam istirahat kamu harus tinggal di kelas untuk menyelesaikan tugas yang tertinggal tadi. Saya tunggu”

Bagaimana perasaan murid diperlakukan seperti ini?

Hasil: Murid memahami konsekuensi yang harus dijalankan karena telah melanggar salah satu peraturan sekolah. Guru tidak menunjukkan suatu emosi yang berlebihan, menjadi marah atau membuat merasa berbuat salah.  Murid tetap dibuat tidak nyaman yaitu dengan harus tinggal kelas pada waktu jam istirahat dan mengerjakan tugas. Guru tetap harus memantau murid pada saat mengerjakan tugas di jam istirahat karena murid tidak bisa ditinggal seorang diri.

Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri.  Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. Seorang manajer akan berkata
“Apa yang kita yakini?” (kembali ke keyakinan kelas)

“Apakah kamu meyakininya?”

“Jika kamu meyakininya, apakah kamu bersedia memperbaikinya?”
“Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang dirimu?”

“Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?”

Tugas seorang manajer bukan untuk mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid untuk dapat mengatur dirinya. Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari kelompoknya, tapi mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik dan kuat.

Bisa jadi dalam praktik penerapan disiplin sehari-hari, kita akan kembali ke posisi Teman atau Pemantau, karena murid yang ditangani belum siap diajak berdiskusi atau diundang melakukan restitusi. Namun perlu disadari tujuan akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.


Manajer (nada suara tulus, bahasa tubuh tidak kaku, mendekat ke murid):

Guru: “Adi, apakah kamu mengetahui jam berapa sekolah dimulai?”

Adi:    “Tahu Pak, jam 7:00!”

Guru: “Ya, jadi kamu terlambat, kira-kira bagaimana kamu akan memperbaiki masalah ini?”

Adi:  “Saya bisa menanyakan teman saya Pak, untuk mengejar tugas yang tertinggal.”

Guru:  “Baik, itu bisa dilakukan. Apakah besok akan ada masalah untuk kamu agar bisa hadir tepat waktu ke sekolah?”

Adi:     “Tidak Pak, saya bisa hadir tepat waktu.”

Guru:  “Baik. Saya hargai usahamu untuk memperbaiki diri”

Bagaimana perasaan murid diperlakukan seperti ini?

Pada posisi Manajer maka suara guru sebaiknya tulus. Tidak perlu marah, tidak perlu meninggikan suara, apalagi menunjuk-nunjuk jari ke murid, berkacak pinggang, atau bersikap seolah-olah menyesal, tampak sedih sekali akan perbuatan murid ataupun bersenda gurau menempatkan diri sebagai teman murid.

Fokus ada pada murid, bukan untuk membahagiakan guru atau orang tua. Murid sudah mengetahui adanya suatu masalah, dan sesuatu perlu terjadi. Bila guru mengambil posisi Pemantau, guru akan melihat apa konsekuensinya apa peraturannya? Namun pada posisi Manajer, guru akan mengembalikan tanggung jawab pada murid untuk mencari jalan keluar permasalahannya, tentu dengan bimbingan guru.


Segitiga Restitusi



Sisi 1. Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity)

Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Kalau kita ingin ia menjadi reflektif, maka kita harus meyakinkan si anak, dengan cara mengatakan kalimat-kalimat ini:

  • Berbuat salah itu tidak apa-apa.
  • Tidak ada manusia yang sempurna
  • Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.
  • Kita bisa menyelesaikan ini.
  • Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi Bapak/Ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini.
  • Kamu berhak merasa begitu.
  • Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri?

Kalau kita mengatakan kalimat-kalimat diatas, akan sangat sulit, bahkan hampir tidak mungkin, buat anak untuk tetap membangkang. Para guru yang bertugas mengawasi anak-anak saat mereka bermain di halaman sekolah, menyatakan bahwa bila mereka mengatakan kalimat tersebut yang mungkin hanya butuh 30 detik, bisa mengubah situasi yang sulit menjadi kooperatif.

Ketika seseorang merasa sedih dan emosional, mereka tidak bisa mengakses bagian otak yang berfungsi untuk berpikir rasional, seperti yang Bapak Ibu CGP telah pelajari di modul 1.2 tentang konsep otak 3-in-1 (Triune). Saat itulah ketika kita harus menstabilkan identitas anak. Sebelum terjadi hal-hal lain yang bisa memperburuk keadaan, kita sebaiknya membantu anak untuk tenang dan kembali ke suasana hati dimana proses belajar dan penyelesaian masalah bisa dilakukan.

Tentu akan sulit melakukan restitusi bila, anak yang berbuat salah terus berfokus pada kesalahannya. Ada 3 alasan untuk ini, pertama rasa bersalah menguras energi. Rasa bersalah membutuhkan energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk mencari penyelesaian masalah.  Kedua, ketika kita merasa bersalah, kita mengalami identitas kegagalan. Dalam kondisi ini, orang akan cenderung untuk menyalahkan orang lain atau mempertahankan diri, daripada mencari solusi. Ketiga, perasaan bersalah membuat kita terperangkap pada masa lalu dimana kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita hanya bisa mengontrol apa yang akan terjadi di masa kini dan masa datang

Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk,  pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan. Kita mungkin tidak suka sikap seorang anak yang terus menerus merengek, tapi bila sikap itu mendapat perhatian kita, maka itu telah memenuhi kebutuhan anak tersebut. Kalimat-kalimat di bawah ini mungkin terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka.

  • “Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?”
  • “Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu”
  • “Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu”.
  • “Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.”

Biasanya guru menyuruh anak untuk menghentikan sikap yang tidak baik, tapi teori kontrol menyatakan bahwa resep itu tidak manjur. Mungkin tindakan guru dengan memvalidasi sikap yang tidak baik seperti bertentangan dengan aturan yang ada, namun sebetulnya tujuannya untuk menunjukkan bahwa guru memahami alasan di balik tindakan murid.

Restitusi tidak menyarankan guru bicara ke murid bahwa melanggar aturan adalah sikap yang baik, tapi dalam restitusi guru harus memahami alasannya, dan paham bahwa setiap orang pasti akan melakukan yang terbaik di waktu tertentu. Sebuah pelanggaran aturan seringkali memenuhi kebutuhan anak akan penguasaan/power walaupun seringkali bertabrakan dengan kebutuhan yang lain, yaitu kebutuhan akan kasih sayang dan rasa diterima/love and belonging. Kalau kita tolak anak yang sedang berbuat salah, dia akan tetap menjadi bagian dari masalah,  namun bila kita memahami alasannya melakukan sesuatu, maka dia akan merasa dipahami.

Para guru yang telah menerapkan strategi ini mengatakan bahwa anak-anak yang tadinya tidak terjangkau,  menjadi lebih terbuka pada mereka. Strategi ini menguntungkan bagi murid dan guru karena guru akan berada dalam posisi siswa, dan karena itu akan memiliki perspektif yang berbeda.

Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.

  • Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga?
  • Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?
  • Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?
  • Kamu mau jadi orang yang seperti apa?

Penting untuk menanyakan ke anak, kehidupan seperti apa nantinya yang mereka inginkan?

Apakah kamu ingin menjadi orang yang sukses, bertanggung jawab, atau bisa dipercaya?

Kebanyakkan anak akan mengatakan “Iya,” Tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang seperti itu. Guru dapat membantu dengan bertanya, seperti apa jika mereka menjadi orang seperti itu. ketika anak sudah mendapat gambaran yang jelas tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu anak-anak tetap fokus pada gambaran tersebut.

Rabu, 04 Oktober 2023

Kisi-Kisi IPA PTS Kelas VIII Reguler

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh. Bagaimana kabar peserta didik kelas VIII? Semoga kalian semua dalam kondisi sehat dan tetap semangat belajar ya. Berikut bapak sampaikan kisi-kisi untuk belajar Penilaian Tengah Semester (PTS) IPA untuk kelas reguler. Ada 20 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian. Semoga bermanfaat ya.

  1. Peserta didik dapat menentukan ilmuwan kali pertama yang melihat sel-sel dengan menggunakan mikroskop. 
  2. Disajikan gambar dua jenis mikroskop yang berbeda, peserta didik dapat menentukan dua jenis mikroskop tersebut. 
  3. Disajikan gambar sel beserta organelnya, peserta didik dapat menentukan pasangan nama organel sel beserta fungsinya dengan benar. 
  4. Disajikan gambar salah satu jaringan tumbuhan, peserta didik dapat menentukan jaringan palisade, xilem, dan floem. 
  5. Disajikan pernyataan mengenai organel sel penghasil energi, peserta didik dapat menentukan organel sel penghasil tenaga pada sel tumbuhan. 
  6. Disajikan tabel data macam-macam nutrisi dan fungsi nutrisi, peserta didik dapat menentukan pasangan antara macam nutrisi beserta fungsinya yang benar. 
  7. Disajikan gambar organ pencernaan manusia, peserta didik dapat menentukan nama organ pencernaan yang ditunjuk.  
  8. Disajikan pernyataan mengenai suatu makanan yang dikonsumsi, peserta didik dapat menentukan nama enzim beserta fungsinya untuk mencerna bahan makanan tersebut.
  9. Disajikan gambar organ pencernaan, peserta didik peserta didik dapat menentukan pasangan antara nama enzim beserta fungsinya berdasar organ pencernaan yang ditunjuk.  
  10. Disajikan data tabel bahan aditif makanan, peserta didik dapat menentukan pasangan yang benar antara nama, jenis, dan fungsi bahan aditif makanan tersebut. 
  11. Peserta didik dapat menentukan jumlah persentase komposisi darah manusia.  
  12. Disajikan ciri-ciri sel darah manusia, peserta didik dapat mengidentifikasi yang termasuk ciri sel darah merah.
  13. Disajikan gambar sel peredaran darah manusia, peserta didik dapat menentukan urutan jenis peredaran darah kecil.   
  14. Disajikan bagian-bagian jantung, peserta didik dapat menyebutkan darah dari seluruh tubuh pertama kali ke bagian….dan dari bagian … lalu kembali meninggalkan jantung melewati lengkung aorta.
  15. Disajikan data hasil pemeriksaan darah dari laboratorium beserta data batas normal kondisi darah, peserta didik dapat mengidentifikasi jenis penyakit berdasar dari hasil pemeriksaan darah itu. 
  16. Disajikan bagan proses udara saat bernafas, peserta didik dapat menentukan urutan jalannya proses bernafas melalui organ-organ pernafasan.
  17. Disajikan gambar organ pernapasan, peserta didik dapat menentukan fungsi dari organ pernapasan yang ditunjuk.  
  18. Peserta didik dapat menentukan mekanisme pernapasan ketika terjadi inspirasi.
  19. Disajikan gambar nefron, peserta didik dapat menentukan salah satu nama organ nefron beserta fungsinya.  
  20. Peserta didik dapat menentukan fungsi hati yang berkaitan dengan sistem ekskresi. 
  21. Peserta didik dapat menentukan perbedaan sel hewan dan tumbuhan berdasarkan bentuk sel, dinding sel, keberadaan kloroplas, dan keberadaan vakuola.
  22. Disajikan daftar komposisi suatu produk minuman, peserta didik dapat menyebutkan jumlah takaran saji, banyak jumlah sajian per kemasan, kandungan makronutrien, besar energi total yang diperoleh jika seluruh produk dengan berat bersih 200g habis dikonsumsi.
  23. Disajikan skema proses pembekuan darah, peserta didik dapat menyebutkan pembekuan darah melalui skema. 
  24. Peserta didik dapat menjelaskan 2 nama jenis penyakit sistem pernapasan, penyebabnya, beserta cara pencegahannya.
  25. Peserta didik dapat menyebutkan 4 nama bagian lapisan dermis kulit manusia. 

Selasa, 03 Oktober 2023

Kisi-Kisi IPA PTS 2023 Kelas VII Reguler

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh. Bagaimana kabar peserta didik kelas VII? Semoga kalian semua dalam kondisi sehat dan tetap semangat belajar ya. Berikut bapak sampaikan kisi-kisi untuk belajar Penilaian Tengah Semester (PTS) IPA untuk kelas reguler. Ada 20 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian. Semoga bermanfaat ya.

  1. Peserta didik dapat menentukan jenis ilmu sains yang menyelediki pengaruh sampah terhadap hewan-hewan di laut. 
  2. Peserta didik dapat menjelaskan pengertian sains. 
  3. Peserta didik dapat menentukan berbagai macam kegiatan yang dilakukan di laboratorium IPA. 
  4. Disajikan beberapa gambar simbol bahan kimia berbahaya, peserta didik dapat menentukan simbol untuk bahan kimia yang beracun dan korosif. 
  5. Peserta didik dapat menentukan pernyataan yang termasuk hipotesis.
  6. Peserta didik dapat menentukan urutan langkah-langkah metode ilmiah yang benar. 
  7. Peserta didik dapat menentukan contoh dari besaran pokok. 
  8. Disajikan pernyataan mengenai besaran waktu, peserta didik dapat mengkonversi besaran waktu dari menit menjadi detik.
  9. Disajikan pernyataan mengenai metode ilmiah, peserta didik dapat menentukan contoh langkah metode ilmiah dalam tahap analisis data.  
  10. Disajikan pernyataan mengenai jenis data penelitian yang berupa kolom dan baris, peserta didik dapat menentukan jenis penyajian data penelitian tersebut. 
  11. Disajikan beberapa gambar molekul suatu zat,  peserta didik dapat mengidentifikasi macam-macam molekul zat berdasar gambar tersebut. 
  12. Disajikan ketiga gambar benda, peserta didik dapat mengidentifikasi ketiga gambar itu berdasar volumenya dan bentuknya.
  13. Disajikan pernyataan kondisi partikel suatu zat padat, peserta didik dapat menentukan jenis peristiwa perubahan zat berdasar pernyataan kondisi partikel itu.  
  14. Disajikan pernyataan kondisi partikel suatu zat cair, peserta didik dapat menentukan jenis peristiwa perubahan zat berdasar pernyataan kondisi partikel itu
  15. Disajikan peristiwa sifat fisika zat, peserta didik dapat menentukan sifat fisika zat berdasar pernyataan tersebut.
  16. Peserta didik dapat menentukan contoh proses yang menunjukkan sifat kimia zat dalam kehidupan sehari-hari. 
  17. Disajikan beberapa pernyataan perubahan zat dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik dapat mengidentifikasi peristiwa yang termasuk perubahan fisika.
  18. Disajikan beberapa pernyataan perubahan zat dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik dapat mengidentifikasi peristiwa yang termasuk perubahan kimia. 
  19. Disajikan gambar telur dalam posisi berada di wadah berisi air, peserta didik dapat menentukan penyebab posisi telur di dalam wadah terkait massa jenis benda dan masa jenis zat cair. 
  20. Disajikan beberapa tiga benda dengan berbagai macam posisi di dalam zat cair dan disertakan data massa jenis benda yang berbeda-beda serta data massa jenis zat cair, peserta didik dapat mengidentifikasi posisi ketiga benda yang benar tersebut.
  21. Disajikan beberapa kegiatan pengukuran dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik dapat menentukan jenis pengukuran yang termasuk besaran pokok.
  22. Disajikan gambar benda yang tidak beraturan di dalam gelas ukur, peserta didik dapat menentukan volume benda tersebut
  23. Disajikan pernyataan suatu peristiwa mengenai alur datangnya bau dari sumber bau yang menyebar di suatu ruangan, peserta didik dapat menjelaskan penyebab terjadinya peristiwa tersebut,
  24. Disajikan data tabel beberapa titik leleh berbagai bahan, peserta didik dapat menentukan panas yang paling tinggi untuk meleleh.
  25. Disajikan data gambar mengenai benda yang memiliki panjang 30 cm, tinggi 25 cm, dan lebar 6 cm serta massas 10 kg, peserta didik dapat menghitung massa jenis benda tersebut. 

Jumat, 29 September 2023

Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol?

 

Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol? (Stephen R. Covey)


Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol? Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991)  mengatakan bahwa,

“..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau  perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita  perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia,  bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema  pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”.

Teori Kontrol (Dr. William Glasser)

 

Teori Kontrol (Dr. William Glasser)


Psikiater dan pendidik, Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’.

  • Ilusi guru mengontrol murid.  
    Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau  murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya  guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid  sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru  menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. Teori Kontrol  menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap  perilaku yang tidak disukai.
  • Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat.  
    Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha  untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah  suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu,  kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya, dan mencoba untuk  menolak bujukan kita atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.
  • Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat  menguatkan karakter.
    Menggunakan kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju pada  identitas gagal. Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri mereka.  Mereka mengembangkan dialog diri yang negatif. Kadang kala sulit bagi guru  untuk mengidentifikasi bahwa mereka sedang melakukan perilaku ini, karena seringkali guru cukup menggunakan ‘suara halus’ untuk menyampaikan pesan  negatif.
  • Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa. 
    Banyak orang dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab  untuk membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun yang  dilakukan dapat diterima, selama ada sebuah kemajuan berdasarkan sebuah  pengukuran kinerja. Pada saat itu pula, orang dewasa akan menyadari  bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif untuk jangka waktu panjang,  dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk.

Senin, 18 September 2023

The Grid Question of Digital Technology Asessment I 2023

 Assalamualaikum warohamtuloohi wabarokatuh

How are the students in class VIII-E and VIII-F? Hopefully you will always be in a healthy condition and stay enthusiastic in carrying out Digital Technology Asessment I. There are 15 multiple choice questions (point for each question = 4) for this assesment and 5 essay (point for each question = 10) . The materials about the collecting information consist of introduction to database, filter and short, lab data collection. Another materials is designing a documents consist of tabs and columns. Here are there materials for Digital Technology Asessment I : 

  1. Students can mention the definition what is a database.  
  2. Students can mention the function of a sort.
  3. Presented the picture of data field, students can determine the data type would be most suitable for the 'Age' field.
  4. Presented the picture of simple database, students can determine the bold text in the column.
  5. Presented the picture of button in tab home of microsoft excel, students can determine the button to create the field names becomes BOLD and ALIGN the text to CENTER.
  6. Students can mention the function of a filter
  7. Students can mention in which ribbon tab you can find SORT and FIND Function
  8. Presented the picture of simple database and following steps, students can determine the correct order of steps for create a database in a very simple way.
  9. Presented the picture of simple database, students can determine the number button to format database information with microsoft excel become a data table style.
  10. Presented picture 1, Picture, Picture 2, and the steps in the following database, students can determine the correct order of filter data.
  11. Presented the steps, students can determine the correct steps to sort name of your database start from smallest to the largest.
  12. Students can mention the function of to sort database according to multiple fields.
  13. Presented the picture, students can determine the part to set the exact position of tab.
  14. Presented the steps, students can determine the correct steps to sort data alphabetically by name and then by hobby. 
  15. Presented the following picture, students can determine to sort data by hobbies and names in the sort window, after click the sort by list column and chose a hobby, then which number button. 
  16. Presented the steps, students can determine the correct order to open the tabs window in microsoft word.
  17. Students can explain the function of center tab.
  18. Students can mention the correct tab click to change the page to landscape or portrait
  19. Presented the steps, students can mention what function of steps to designing a document.

Hopefully the students of class VIII-E and VIII-F will be given fluency in answering science tryout which will be held on Tuesday, September 18, 2023. Keep the enthusiasm for learning and always keep your health. Aamin

Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.